Sepenggal Kisah

Kakiku melangkahi dedaunan kering yang keemasan diterpa sinar. Mataku jelalatan menyapu setiap sudut yang ku pandang. Hatiku penasaran, bertanya tempat apa ini? Sisi hatiku yang lain merasa ini tak asing lagi. Di tanah lapang ini, ku rasakan kesunyian dan kesedihan terdalam. Kenestapaan tiada tara. Tiada orang menyapaku, tiada pula menepuk pundakku selain angin yang berlarian tanpa tahu arah, tidak jua tersenyum padaku selain rumput yang menari gelisah. Langit cerah menyapaku, mengejek tangis hatiku. Aku ingin sendiri. Kemudian otakku menarik jiwaku ke kelam masa lalu.
Teriakan mereka memekakkan telinga kami, Ndi. Yang sempat ku syukuri, kamu tak di sana. Tak ku pikir jikalau kehilangan kawan karib. Saat itu, sedang ku dengarkan yang dijelaskan Pak Bambang. Materi membosankan terkait Indonesia pada masa penjajahan. Hampir saja mataku tertutup rapat, pergi ke pulau kapuk. Dan dengan paksa mereka mengusir kami ke luar. Penggusuran. Satu hal yang sedari dulu tak ingin kenal ku dengannya. Dan mereka kenalkan itu padaku. Dan bukan kepalang kagetnya aku kala mereka sampai kelasku dan telah dibawanya senjata. Pistol.
Aku menyaksikannya, Ndi. Semuanya. Mereka, para kawan tercinta kita, dengan hiasan linangan air mata. Menyebut-nyebut Tuhan. Ada pula yang menangis memanggil ibunya. Pak Bambang, yang berdiri tak jauh dari ambang pintu hanya tertunduk. Beliau tak ku yakin hatinya ikut pedih, mengingat anaknya yang tak lebih dari satu tahun lagi akan lanjut ke jenjang pendidikan paling dasar ini. Dan ku saksikan dengan jelas. Sekolah kita, satu-satunya yang dapatnya kita temukan di desa kita, satu-satunya tempat ilmu kita timba, satu-satunya yang kita harapkan, hancur. Oleh mereka. Penggusuran. Tak sampai hati aku melihat. Otakku tak mampu menjangkau pikiran di otak mereka.
Sungguh, apa maksud mereka aku tak mengerti. Namun, yang ku yakini ialah ini pasti persoalan mempertahankan hidup. Dengan uang. Para-para orang berkedudukan, yang uangnya bahkan mungkin mampu membeli 3 sekolah. Yang ku tahu, saat itu kita lihat asa pupus. Terkubur, bersama reruntuhan bangunan tercinta. Sayangnya, sekolah itu sudah menyatu dalam hatiku. Aku mencintai sekolah itu. Dan sekarang, itu tak ada lagi.
Jadi, begitulah, Ndi. Entah. Aku tak dapat lakukan apa pun. Bagaimana kabarmu? Ku tahu, saat kau ingat kisah yang ku lontarkan ini, sudah sukses dirimu. Dan mungkin, sudah tiada diriku. Sebab yang ku tahu, ada kemungkinan besar akan adanya penggusuran beberapa rumah. Kau bisa menebaknya? Kemungkinan rumahku akan jadi salah satunya. Mana lagi rumah yang paling dekat sekolah dan strategis untuk membuka usaha? Ah, sudahlah yang penting kau baik-baik saja. Aku akan tak lagi mengerti tentang kabar para teman. Akankah mereka kepompong yang kini menjelma menjadi kupu-kupu? Ataukah kepompong mungil yang meringkuk dalam ranting pepohonan.
Kardi. Bagaimana kabarmu, sobat? Aku merindukanmu. Maafkan aku yang lama menghilang. Sejak peristiwa buruk itu, keluargaku singgah. Ke suatu tempat yang aku pun malas mengingatnya. Aku sungguh tak tahu kabarmu, Di. Tapi, aku di sini sekarang. Tempat yang pikirku telah berani menjangkaunya. Aku di sini. Tanah lapang tempat berdirinya suatu sekolah dulu. Sekolah kita. Aku menyaksikannya. Tanah terbengkalai. Tak terusus. Para masyarakat sekitar sekiranya malas untuk sekedar melirik tanah ini. Dan di sudut tanah ini, tertancap sebuah papan. Bukan, bukan papan nama sekolah kita. Sekolah kita tidak punya papan nama, kan? Papan putih itu ditulis dengan cat hitam bertuliskan “DIJUAL”.
Suatu saat kita akan bertemu lagi, kan, sobat? Mungkin dalam gelombang cinta dalam tiap mimpi. Atau dalam tiap doa yang selalu ku sebut namamu. Mungkin juga dalam suatu kisah sukses kita berdua. Terima kasih telah membeberkan segalanya kepadaku. Tentang mereka yang bengis akan kekejaman. Tentang mereka yang merenggut asa kami. Tentang mereka yang pikirnya dipenuhi uang. Dan tentang segala tangis, nestapa, dan pedih darinya. Sungguh klasik kisah ini.
Begitulah. Dadaku penuh sesak mengigatnya. Aku benci diriku. Pada sisi diriku yang berani menarikku ke masa kelam. Ku tahan diriku. Hingga meledak air dari sisi mataku. membanjiri sisi hatiku yang hampa. Pada mereka, isi hatiku yang riuh bergemuruh, aku mengucap sumpah. Akan ku bangun kembali sekolah itu, untuk masa depan.
Cerpen Karangan: Astrid Wahyu Mahardika
Blog: astroywahyu.wordpress.com
Astrid Wahyu, remaja dalam status pelajar berusia 15 tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar