Kala Penjudi Ke Tanah Suci

Malam itu. Hendra menang. Hendra taruhan tidak seberapa. Hanya 1 Juta Rupiah. Tapi. Yang Hendra dapat lebih besar. 30 Juta. Modal sedikit, keuntungannya berlipat ganda. Sejak itu. Hendra ketagihan bermain j*di t*gel. Bagi Hendra. Dibanding bekerja. Dalam satu bulan. Belum tentu dapat puluhan juta. Namun. Dengan bermain j*di t*gel. Satu hari saja. Hendra dapat mengantongi ratusan juta rupiah. Untuk modal j*di t*gel. Hendra sangat selektif. Ia tidak gegabah.
Salah-salah ia tidak untung malah rugi. Hendra cukup mengeluarkan 1 sampai 2 Juta. Sampai. Banyak di antara teman-teman Hendra yang mencibir, bahwa Hendra itu pelit. Sering menang besar tapi taruhannya sedikit. Berj*di t*gel kewajiban yang harus dijalani. Sehari meninggalkannya. Hidup Hendra seperti mau miskin. Oleh sebab itu. Sepulang kerja. Hendra tidak langsung pulang ke rumah.
Ia mampir ke sebuah Baruntuk menunaikan kewajiban buruknya itu. Istri dan anak Hendra tidak mengetahui kebiasaan buruk Hendra di luar rumah. Yang mereka tahu, Hendra bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat milik pemerintah dalam urusan kebutuhan sembako. Istri Hendra. Siti Aisyah. Tidak banyak bertanya. Karena Hendra pandai beralasan. Ada meeting atau ngobyek di luar kota. Selalu menjadi alasan andalannya. Semua warga tidak curiga. Warga bersikap biasa saja. Bahkan bagi warga, Hendra adalah sosok ayah pilihan. Sebab. Dua anak Hendra yang menjadi Hafidz. Dinilai warga. Adalah buah didikan Hendra yang keras dalam agama. Hendra tidak menanggapi secara belebihan anggapan warga yang sedemikian besar padanya, Hendra acuh. Seolah rendah hati.
“Dulu bagiku. Hal itu. Akan menjerumuskan aku pada pertaubatan. Otomatis aku meninggalkan j*di t*gel. Kalau aku tinggalkan. Bisa susah aku mencari uang.” Kata Hendra Kepada Hidayah. Namun anggapan warga bukan isapan jempol belaka. Memang benar adanya. Menurut anak-anak Hendra. Meskipun Hendra sering bermain j*di t*gel. Namun. Hendra tidak membirkan anak-anaknya tidak salat. “Bapak orangnya tegas. Dia marah. Kalau kami enggak salat.” Kata anak kedua Hendra. Ardi. 33 tahun.
Orangtua Hendra. Mengutarakan hasrat mulia. Ingin menjadi tamu Allah Swt. Dengan pergi ke Baitullah. Hendra dilema. Ia takut pergi ke sana. Namun. Karena iba. Dan ingin membahagiakan kedua orangtuanya, ia pun terpaksa menyetujui keinginan kedua orangtuanya itu. Singkat cerita. Tahun 90-an. Hendra pun mendaftarkan dirinya, istri dan kedua orangtuanya untuk berangkat haji. Jauh dari itu. Hendra mulai beribadah.
Membaca buku-buku tentang ibadah haji. Sementara. Ia meninggalkan j*di t*gel. 1995. Hendra dan keluarga berangkat ke Baitullah. Sesampainya di sana. Ia naik bus ke hotel terdekat. Begitu juga. Kedua orangtua Hendra. Namun di sinilah Allah menunjukkan kuasanya. Hendra mendadak linglung. Bicaranya pun ngelantur. Dia banyak bengong di kamar dan tidak melaksanakan ibadah haji secara keseluruhan. Yang dia ucapkan hanya, “kartu remi” saja. Tentu orangtua Hendra dan istrinya sangat terkejut. Mereka bertanya-tanya ada apa dengan Hendra.
Seminggu di sana. Hendra tidak kunjung berubah. Ia tetap saja dengan kondisi sebelumnya. Namun, sahabat Hendra, Kang Ical menjelaskan pada orangtua serta istrinya bahwa Hendra waktu di tanah air dia kerap bermain j*di. Tentu penjelasan Ical membuat orangtua dan istri Hendra tercengang. Tapi mereka tidak marah. Malah mereka mengajak Hendra bertaubat. Sepulang dari tanah suci. Hendra sudah normal dan menjalani hidup tanpa berj*di lagi. Alhamdulillah.
Cerpen Karangan: Muhammad Ganjar
Facebook: Muhammad Ganjar X
Penulis adalah seorang siswa di MAN Purwakarta. Penulis aktif di Majalah Hidayah dan pernah bekerja di Islampos sebagai Redaktur.
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di:  untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Islami (Religi)


Sepenggal Kisah

Kakiku melangkahi dedaunan kering yang keemasan diterpa sinar. Mataku jelalatan menyapu setiap sudut yang ku pandang. Hatiku penasaran, bertanya tempat apa ini? Sisi hatiku yang lain merasa ini tak asing lagi. Di tanah lapang ini, ku rasakan kesunyian dan kesedihan terdalam. Kenestapaan tiada tara. Tiada orang menyapaku, tiada pula menepuk pundakku selain angin yang berlarian tanpa tahu arah, tidak jua tersenyum padaku selain rumput yang menari gelisah. Langit cerah menyapaku, mengejek tangis hatiku. Aku ingin sendiri. Kemudian otakku menarik jiwaku ke kelam masa lalu.
Teriakan mereka memekakkan telinga kami, Ndi. Yang sempat ku syukuri, kamu tak di sana. Tak ku pikir jikalau kehilangan kawan karib. Saat itu, sedang ku dengarkan yang dijelaskan Pak Bambang. Materi membosankan terkait Indonesia pada masa penjajahan. Hampir saja mataku tertutup rapat, pergi ke pulau kapuk. Dan dengan paksa mereka mengusir kami ke luar. Penggusuran. Satu hal yang sedari dulu tak ingin kenal ku dengannya. Dan mereka kenalkan itu padaku. Dan bukan kepalang kagetnya aku kala mereka sampai kelasku dan telah dibawanya senjata. Pistol.
Aku menyaksikannya, Ndi. Semuanya. Mereka, para kawan tercinta kita, dengan hiasan linangan air mata. Menyebut-nyebut Tuhan. Ada pula yang menangis memanggil ibunya. Pak Bambang, yang berdiri tak jauh dari ambang pintu hanya tertunduk. Beliau tak ku yakin hatinya ikut pedih, mengingat anaknya yang tak lebih dari satu tahun lagi akan lanjut ke jenjang pendidikan paling dasar ini. Dan ku saksikan dengan jelas. Sekolah kita, satu-satunya yang dapatnya kita temukan di desa kita, satu-satunya tempat ilmu kita timba, satu-satunya yang kita harapkan, hancur. Oleh mereka. Penggusuran. Tak sampai hati aku melihat. Otakku tak mampu menjangkau pikiran di otak mereka.
Sungguh, apa maksud mereka aku tak mengerti. Namun, yang ku yakini ialah ini pasti persoalan mempertahankan hidup. Dengan uang. Para-para orang berkedudukan, yang uangnya bahkan mungkin mampu membeli 3 sekolah. Yang ku tahu, saat itu kita lihat asa pupus. Terkubur, bersama reruntuhan bangunan tercinta. Sayangnya, sekolah itu sudah menyatu dalam hatiku. Aku mencintai sekolah itu. Dan sekarang, itu tak ada lagi.
Jadi, begitulah, Ndi. Entah. Aku tak dapat lakukan apa pun. Bagaimana kabarmu? Ku tahu, saat kau ingat kisah yang ku lontarkan ini, sudah sukses dirimu. Dan mungkin, sudah tiada diriku. Sebab yang ku tahu, ada kemungkinan besar akan adanya penggusuran beberapa rumah. Kau bisa menebaknya? Kemungkinan rumahku akan jadi salah satunya. Mana lagi rumah yang paling dekat sekolah dan strategis untuk membuka usaha? Ah, sudahlah yang penting kau baik-baik saja. Aku akan tak lagi mengerti tentang kabar para teman. Akankah mereka kepompong yang kini menjelma menjadi kupu-kupu? Ataukah kepompong mungil yang meringkuk dalam ranting pepohonan.
Kardi. Bagaimana kabarmu, sobat? Aku merindukanmu. Maafkan aku yang lama menghilang. Sejak peristiwa buruk itu, keluargaku singgah. Ke suatu tempat yang aku pun malas mengingatnya. Aku sungguh tak tahu kabarmu, Di. Tapi, aku di sini sekarang. Tempat yang pikirku telah berani menjangkaunya. Aku di sini. Tanah lapang tempat berdirinya suatu sekolah dulu. Sekolah kita. Aku menyaksikannya. Tanah terbengkalai. Tak terusus. Para masyarakat sekitar sekiranya malas untuk sekedar melirik tanah ini. Dan di sudut tanah ini, tertancap sebuah papan. Bukan, bukan papan nama sekolah kita. Sekolah kita tidak punya papan nama, kan? Papan putih itu ditulis dengan cat hitam bertuliskan “DIJUAL”.
Suatu saat kita akan bertemu lagi, kan, sobat? Mungkin dalam gelombang cinta dalam tiap mimpi. Atau dalam tiap doa yang selalu ku sebut namamu. Mungkin juga dalam suatu kisah sukses kita berdua. Terima kasih telah membeberkan segalanya kepadaku. Tentang mereka yang bengis akan kekejaman. Tentang mereka yang merenggut asa kami. Tentang mereka yang pikirnya dipenuhi uang. Dan tentang segala tangis, nestapa, dan pedih darinya. Sungguh klasik kisah ini.
Begitulah. Dadaku penuh sesak mengigatnya. Aku benci diriku. Pada sisi diriku yang berani menarikku ke masa kelam. Ku tahan diriku. Hingga meledak air dari sisi mataku. membanjiri sisi hatiku yang hampa. Pada mereka, isi hatiku yang riuh bergemuruh, aku mengucap sumpah. Akan ku bangun kembali sekolah itu, untuk masa depan.
Cerpen Karangan: Astrid Wahyu Mahardika
Blog: astroywahyu.wordpress.com
Astrid Wahyu, remaja dalam status pelajar berusia 15 tahun.

Celengan Ayam

Di musim hujan kala itu sama seperti apa yang ku rasakan sekarang di depan bangunan lapuk di sebuah kota bernama Solo, kota yang ku kenal dengan batiknya yang menusantara. Tepatnya 9 tahun silam aku duduk di antara bangku-bangku berderit dalam sana dengan bendera kebangsaan usang yang masih berkibar dengan gagahnya di depan gedung itu. Ya, itu adalah bangunan di mana aku belajar berbagai pendidikan dasar yang dulu belum ketahui. Kaca bangunannya yang pecah dan berlubang bagaikan mulut menganga dan rumput-rumput yang mulai menumbuhi sekeliling bangunan tersebut bagai selimut cakrawala. Bangunan itu kini sudah tak beroperasi karena masalah finansial yang dimilikinya.
Semakin lama aku di depan bangunan ini semakin ku terhanyut dalam masa lalu. Dimana itu adalah masa sulit yang tak seharusnya dialami oleh anak seusiaku kurang lebih 11 tahun silam saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Namaku Rusdi tetapi teman-teman kerap memanggilku Rus. Aku sangat bangga memiliki nama itu nama yang diberikan oleh ayahku 11 tahun silam dengan nama itu aku berhasil menjuarai lomba cipta puisi di tingkat provinsi dengan predikat juara 2 dan pernah juga mendapat juara pertama pada lomba baca cerpen di tingkat kabupaten.
Aku sangat bangga memiliki nama itu apalagi dengan piala-piala yang terukir jelas namaku. Namun walaupun begitu aku tidak berasal dari keluarga yang berada, bisa dibilang pas-pasan. Ibuku hanya bekerja menjadi penjahit pakaian dan ayahku hanya bekerja sebagai montir sepeda yang pendapatannya tidak dapat dipastikan setiap harinya. Aku tidak memiliki saudara kandung bisa dibilang aku adalah anak tunggal. Mengingat aku yang masih makan bangku sekolah dasar, di tahun keenam ini yang sebentar lagi aku akan mengikuti Ujian Nasional.
“Tahun keenam ini aku akan belajar dengan giat, Yah. Agar nanti aku mendapatkan nilai Ujian Nasional yang cukup tinggi untuk masuk SMP favorit di kota ini, Yah.” Kataku kepada Ayah kala itu sembari melihat ibu yang menjahitkan seragam sekolahku yang robek gara-gara terkena paku saat bermain sepak bola di sekolah.
Ayah pun menjawab, “Oh yaa? bagus sekali tekad kamu Nak. Ayah harap kamu dapat konsisten dengan apa yang kamu katakan, Ayah berjanji besok jika kamu dapat diterima di SMP favorit Ayah akan membelikan kamu laptop baru.” ayah pun sembari mengelus-elus rambutku.
“Serius, Yah?” kataku setengah tidak percaya, seakan ini adalah mimpi belaka ayah pun mengangguk dan tersenyum pertanda iya.
“Tapi Yah, aku akan lebih bangga jika membeli barang itu dengan uang celenganku sendiri yang ku tabung di celangan ayam dari gerabah yang Ayah berikan minggu lalu,” jawabku dengan nada lugu lalu ayah pun tersenyum dan berkata, “apa Ayah tidak boleh membantu? Ayah akan lebih senang jika diperbolehkan untuk membantumu.”
“Oke Yah, tak apa jika itu tidak memberatkan Ayah.” Jawabku lalu, ayah pun tersenyum, hatiku senang bukan kepalang.
Hari demi hari berganti kala itu masih ku ingat betul uang sakuku saat itu masih 1000 rupiah. Hampir setiap harinya aku membawa bekal dari rumah berupa nasi dan lauk pauk lalu uang sakuku tersebut tidak aku gunakan untuk hal yang tidak perlu dibeli. Aku lebih menyukai masakan yang diberikan oleh ibuku untuk bekal makan di sekolah. Menurutku itu akan lebih hemat, lalu uang sakuku akan ku tabung untuk meringankan beban ayah membeli laptop buatku. Waktu pun silih berganti hingga pada ahkirnya waktu Ujian Nasional pun mulai dekat, rasanya mulai terpikir olehku masa-masa ketika sudah menjadi siswa SMP.
Pagi itu angin semilir berhembus, burung-burung sibuk melantunkan nyanyian bagai simfoni yang berpadu, “99..100″ hitunganku sembari melihat dan menghitung mundur dari hari Ujian Nasional dilaksanakan. “Emm, kurang 100 hari lagi UN, rasanya cepat sekali waktu mengalir.” gumamku. Setelah itu aku bergegas menyeret tas mungilku ke luar rumah dan berpamitan kepada ayah dan ibu. Lalu aku menaiki sepeda hitam kesayanganku menuju sekolah. Matahari pun sudah tepat di atas kepala. Lonceng sekolah pun berdenting bagaikan nyanyian yang mengizinkan siswa-siswinya untuk pulang menuju rumah mereka masing-masing. Ketika aku pulang dan sampai di rumah lalu aku membuka pintu rumahku dengan mengucap salam.
“Assalammualaikum..” suasana hening tak ada jawaban, kembali ku ucap salamku. “Assalamualaikum..”
Tetap tak ada jawaban tak ku sangka tak ada seseorang pun di rumah saat aku datang. Dalam hati pun bertanya, “di manakah Ayah dan Ibu?” Sebelum aku meletakkan tas sekolahku di meja belajarku tiba-tiba tanpa ku duga, “tring.. tring.. tring.” telepon rumah pun berbunyi hebat. Tanpa ku pikir panjang aku pun langsung sergap mengangkatnya. Terdengar seorang perempuan menangis terisak-isak tak ku sangka suara di telepon itu adalah suara ibuku yang sedang menangis terisak.
Ibu pun berkata bahwa ayah terserang penyakit jantung dan harus secepatnya dilarikan ke UGD. Mendengar kabar itu tangisku pecah, pikiranku sudah tak tentu arah mengingat keluargaku yang tak mempunyai banyak uang untuk membiayai pengobatan ayah di rumah sakit tersebut. Setelah itu aku langsung bergegas menyusul ibu ke rumah sakit dengan mengunakan angkot karena, jarak rumahku dengan rumah sakit tersebut cukup jauh.
Setibaku di rumah sakit ibu langsung merangkulku di depan UGD dengan air matanya yang ke luar dari kedua matanya dan membasahi kedua lesung pipi beliau. Saat itu aku mengerti bagaimana perasaan ibu, aku pun berdiri kaku dan membisu seribu kata. Aku benar-benar merasa sedih. Setelah itu ibu memegang tanganku dan mengajakku masuk dan duduk di ruang tunggu. Melihat keadaan itu kesedihanku pun semakin menjadi. Keadaan pun mulai hening tanpa suara. Kemudian ibu bercerita. Runtut cerita tentang kejadian yang membuat ayah seperti ini, aku pun enggan untuk berbicara. Ibu berkata satu kalimat yang dapat memecah lamunanku.
“Nak, Ibu tak punya banyak uang untuk membiayai berobat Ayahmu Nak. Ibu harus bagaimana?”
Aku pun kembali terdiam dan termangu. Suasana kembali hening sejenak. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiranku tentang uang untuk membeli laptop baru. Tabungan itu sudah sejak lama ku tabung bersama ayah dengan hasil kerja keras beliau dan jumlah tabungannya pun sudah hampir cukup untuk membeli sebuah laptop baru. Melihat keadaan ayah yang memprihatinkan lewat kaca UGD pun aku pun merasa iba dan tak tega. Lalu aku pun menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan walaupun dalam hati sangat berat aku berusaha untuk mengatakan sesuatu kepada ibu.
“Bu, aku punya uang untuk berobat Ayah namun jumlahnya tak terlalu banyak Bu, tapi mungkin bisa membantu.”
Ibu pun kemudian menatapku dengan penuh harapan dan berkata, “Benarkah Nak?”
Dengan berat hati aku berkata, “iya Bu, demi Ayah.” di samping itu aku berusaha mengikhlaskan senyuman tulus dan hati ihklas, pada ahkirnya aku pun bisa ikhlas.
Pagi hari pun seperti biasa aku berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda hitam kesayanganku yang dibelikan ayah kala itu. Aku ke luar rumah dengan terkantuk-kantuk karena semalam menunggu ayah di rumah sakit. Jam pertama pun usai tiba-tiba tanpa ku sangka ada seorang guru yang memanggilku ke luar kelas. Ternyata itu adalah Pak Yuli aku pun merasa deg-degan guru itu berkata dengan nada lirihnya.
“Kamu bernama Rusdi?” dengan sangat yakin pun aku mengangguk pertanda mengiyakan pertanyaan guru tersebut. Setelah itu guru itu pun memegang pundakku dan berkata.
“Saya hanya mendapat amanat dari guru lain untuk menyampaikan kepadamu Rusdi, dengan berat hati Bapak menyampaikan ini, Ayah kamu meninggal dini hari Rusdi.”
Guru itu pun menyampaikan dengan nada berat. Aku langsung memeluk Pak Yuli dengan penuh linangan air mata. Pak Yuli pun mengizinkan aku untuk pulang lebih awal dari siswa lain. Dengan sepedaku aku pulang dengan air mata yang menetes perlahan membasahi kerah bajuku. Pikiranku sudah campur aduk. Sesampai aku di rumah, rumahku sangat ramai banyak orang berdatangan untuk mengurusi jasad ayahku. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluk ayahku yang sudah terbujur kaku dengan linangan air mata.
Kini aku telah duduk di bangku kuliah. Dari pengalaman itu aku belajar untuk bersikap lebih dewasa, bijaksana, dan mengikhlaskan sesuatu milik Tuhan yang bersifat fana. Seperti aku mengikhlaskan kepergian ayah untuk selamanya.
Diilhami dari kisah nyata.
Cerpen Karangan: Melati Ayuningtyas
Facebook: Melati Ayuningtyas Pertiwi